Filed under: Love
Suatu saat, dalam kelompok renungan, pembicara berkata, jangan mengeksploitasi anakmu untuk kepuasan dirimu (baca:orang tua). Contoh sederhana, si anak dimasukkan ke sekolah swasta yang mahal, hanya untuk gengsi, untuk mengangkat derajat orang tua, padahal sebenarnya bisa saja anak mendapatkan pendidikan yang berkualitas baik di sekolah lain yang lebih murah, dan masih banyak contoh lainnya.
Di akhir acara, kami bersalam-salaman. Seorang ibu menyalami pembicara itu, beliau berkata, “Pak, minta doa’nya ya, moga2 anak saya segera dikasi momongan.” Pembicara balik bertanya,”Lho, memangnya kenapa kok pingin punya cucu?” Ibu itu menjawab dengan antusiasnya, “Buat hiburan saya, pak” (suami ibu itu sudah meninggal). Aku yang kebetulan ada di dekatnya langsung tertawa keras, dalam hati aku berkata, “Walah, kena deh, ibu ini” Betul saja, si pembicara langsung kaget, “Wah, kasian cucunya cuma mau dijadiian hiburan, kaya barang aja …….” Si ibu tersenyum simpul …..
Sampai rumah aku bertanya-tanya, “Sebenarnya kenapa aku ingin punya anak?”
Heran, tak kutemukan alasan yang lebih baik dari ibu tadi…..
Namaste (otjha)